Download Terjemah Kitab Adabul Alim Wal Muta’allim Pdf Lengkap

Diposting pada

Terjemah Kitab Adabul Alim Wal Muta’allim – Hadratusyekh Muhammad Hasyim Asy’ari, seperti ulama dan pesantren pada umumnya, melanjutkan tradisi keilmuan dengan pola multidisiplin. Ia memiliki keahlian dalam banyak (lintas) bidang keilmuan.

Dalam tulisan-tulisan Kiai Hasyim yang telah disusun oleh Kiai Ishomuddin Hadziq dalam sebuah kompilasi berjudul “Irsyadus Syari”, kita akan melihat bahwa Kiai Hasyim berbicara dan memiliki kepedulian dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Islam.

Ia memberikan semacam tuntunan atau nasehat tentang bagaimana kehidupan Islam yang berbasis kerakyatan dijalankan.

Kiai Hasyim Asy’ari berbicara tentang berbagai topik seperti pendidikan Islam (tarbiyyah Islamiyyah), teologi (aqaid Islamiyyah), kepedulian sosial (syu’un ijtima’iyyah), dan bahkan persatuan bangsa (ittihad wathaniyyah).

Kitab Adab Al-‘Alim wal Muta’allim (etika orang yang berilmu dan pencari ilmu) merupakan salah satu kitab Kiai Hasyim Asy’ari yang terdapat dalam Irsyadus Syari.

Pembahasan Kitab Adabul Alim Wal Muta’allim

Pembahasan dalam Terjemah Kitab Adabul Alim Wal Muta’allim paling tidak dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) bagian.

  1. Pertama membahas keutamaan pengetahuan, keutamaan mempelajari, dan mengajarkannya.
  2. Kedua membahas tentang etika seseorang dalam tahap mencari ilmu.
  3. Ketiga membahas etika seseorang ketika ia telah menjadi orang yang saleh atau lulus dari suatu lembaga pendidikan.

Secara lebih rinci dapat dijelaskan bahwa dalam kitab ini terdapat 8 (delapan) bab atau pembahasan, ditambah satu lagi kitab khotbah (pendahuluan).

  1. BAB Pertama membahas keutamaan pengetahuan, keutamaan belajar, dan keutamaan mengajar. Dalam bab ini terdapat pasal yang menegaskan bahwa keutamaan tersebut diperuntukkan bagi para ulama yang benar-benar mengamalkan ilmunya.
  2. Kedua menjelaskan tentang 10 (sepuluh) etika seorang mahasiswa terhadap dirinya sendiri.
  3. Ketiga membahas tentang 12 (dua belas) etika seorang siswa terhadap gurunya.
  4. Keempat membahas tentang 13 (tiga belas) etika yang harus dipatuhi seorang mahasiswa dalam kaitannya dengan mata kuliah yang dipelajari.
  5. Kelima membahas tentang 20 (dua puluh) etika seorang alim terhadap dirinya sendiri.
  6. Keenam adab seorang alim yang berkaitan dengan bidang ilmu yang dikuasai dan diajarkannya.
  7. Ketujuh membahas tentang etika seorang alim (lulusan studi) dalam hubungannya dengan murid-murid yang diajarnya.
  8. Kedelapan membahas tentang etika orang yang bertakwa terhadap buku-buku pelajaran yang diajarkan.

Dari penjelasan di atas, kita melihat bahwa bab pertama membahas tentang klasifikasi pertama, yaitu pembahasan pertama tentang keutamaan sains, pembelajaran, dan pengajaran.

Bab kedua hingga bab keempat terkait dengan klasifikasi kedua, yaitu masalah etika seseorang yang sedang dalam keadaan belajar atau mencari ilmu.

Sedangkan sisanya yaitu bab lima sampai dengan Bab delapan termasuk dalam klasifikasi ketiga yaitu etika seseorang yang telah lulus studi.

 

Hal Yang Mempengaruhi Isi Kitab

Mencermati isi kitab Adab Alim wal Muta’allim, tampak bagi kita bahwa Kiai Hasyim Asy’ari banyak dipengaruhi oleh pemikiran etis Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali.

Pengaruh ini sangat terlihat seperti dalam pernyataan Kiai Hasyim Asy’ari dalam buku ini:

Pertama, bahwa keutamaan ilmu hanya akan diperoleh oleh orang yang menuntut ilmu dengan tujuan mencapai keridhaan dan kemuliaan Allah. Dan bukan untuk tujuan duniawi (halaman 22). Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Imam Al-Ghazali dalam bab pertama Ihya ‘Ulumiddin.

Kedua, seseorang yang dalam kondisi belajar harus bersahaja dalam gaya hidupnya yang ditunjukkan dengan makan dan berpakaian yang sopan (halaman 25).

Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Imam Al-Ghazali dalam kitab Mauidhah Al-Mu’minin yang mengatakan: “Ilmu adalah ibadah yang paling baik. Dan alangkah baiknya jika seseorang dalam hidupnya cukup untuk mengabdikan dirinya pada ilmu.” Secara umum dapat dikatakan bahwa pemikiran pendidikan Kiai Hasyim Asy’ari masih mempertahankan budaya dan ideologi pendidikan Islam yang mengutamakan kecintaan dan kemuliaan ilmu dan sumber-sumbernya.

Kiai Hasyim mengatakan dalam bab ketiga: “Seorang siswa harus berpikir dalam-dalam dan istirahat dulu, sia-sia dia akan mencari ilmu (belajar) …” (halaman 29).

Semoga hal ini lebih relevan untuk diterapkan saat ini di era media sosial dimana banyak orang yang dibingungkan dengan berbagai ajaran agama dan hanya belajar melalui media sosial, youtube dan lain sebagainya.

 

Pengakuan Ahlussunnah wal Jamaah

Tradisi keilmuan Islam di masa lalu (dan masih dilakukan di Al-Azhar Mesir) adalah bahwa setiap karya akan diakui sebagai karya yang layak untuk dibagikan kepada masyarakat umum ketika telah mendapat semacam pengakuan dari ulama lain. . Al-Muwattha’ Imam Malik adalah contoh yang dapat dikemukakan dalam hal ini.

Kitab Taqrib bahkan memiliki banyak ulasan (syarah) yang menentangnya. Kitab Kifayah Al-Akhyar ini juga banyak para ulama yang mengakui bahwa sistematikanya adalah nafisah (sangat indah).

Hal ini juga berlaku untuk kitab Adab al-Alim wal Muta’allim. Di bagian belakang kitab ini terdapat catatan beberapa ulama Hijaz yang mengajar di Masjidil Haram karena kondisi pemberontakan Wahabi, mereka pindah dan tinggal (Nazil) di Jawa (Nusantara).

Catatan tersebut bahkan berasal dari kalangan ulama Hanafiyyah. Komentar ini berasal dari (1) Sheikh Said Muhammad Al-Yamani; (2) Syekh Abdul Hamid Sunbul Hadidi (Hanafiyyah); (3) Syekh Hasan bin Said Al-Yamani; (4) Syekh Muhammad Ali bin As-Said Al-Yamani.

Download Terjemah Kitab Adabul Alim Wal Muta’allim.

Preview

Tinggalkan Balasan