Tata Cara Sholat Ghaib

Diposting pada

Tata Cara Sholat Ghaib – Berbicara tentang sholat ghaib, mengingatkan kita pada kisah wafatnya Raja Najasyi, Ashhamah bin Abjar, penguasa negeri Habasyah (sekarang Etiopia) yang wafat pada 9 Rajab Hijriyah.

Kematian Raja Najasyi memiliki nilai tersendiri bagi sejarah dan hukum Islam.

Karena dari situlah muncul syariat untuk melakukan sholat ghaib, yaitu menshalati jenazah yang berada ditempat lain.

Sebenarnya, nabi melaksanakan shalat gaib bukan hanya untuk Raja Najasyi saja, tetapi juga untuk tiga sahabat lainnya. Yakni Mu’awiyah bin Mu’awiyah al-Muzanni yang gugur di Madinah, Zaid bin Harithah dan Ja’far bin Abu Thalib yang sama-sama menjadi syahid dalam pertempuran Mu’tah melawan kekaisaran Romawi Timur.

Namun yang paling sering di bicarakan oleh para ulama sebagai hujjah atas sholat ghaib adalah doa yang Nabi SAW panjatkan untuk Raja Najasyi.

Hal ini karena dalil sholat ghaib yang nabi lakukan pada Raja Najasyi adalah hadits shahih, bahkan telah disetujui oleh Imam al-Bukhari dan Muslim.

 

Dalil Sholat Ghaib

Diantara dalil-dalil shalat ghaib adalah riwayat dari Abu Hurairah ra:

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم نَعَى النَّجَاشِيَّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ، وَخَرَجَ بِهِمْ إِلَى الْمُصَلَّى، فَصَفَّ بِهِمْ وَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعًا. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Artinya, “Nabi SAW melaporkan berita kematian Raja Najasyi pada hari kematiannya, kemudian dia dan para sahabatnya pergi ke tempat sholat, membariskan sahabatnya dan membaca empat takbir (Salat Gaib).”2.

 

Hukum dan Niat Sholat Ghaib

Shalat ghaib memiliki hukum yang sama dengan sholat jenazah yang ada, yaitu fardhu kifayah. Artinya, sholat ghaib sudah cukup untuk mengugurkan kewajiban sholat jenazah atas orang lain. Asalkan diketahui dengan jelas bahwa ada orang yang melakukannya.

Adapun niat dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis kelamin jenazah, jumlah jenazah dan status mushalli, apakah menjadi imam, berjamaah, atau sholat sendiri.

 

Niat Sholat Ghaib

Jika shalat laki-laki, maka niatnya adalah:

أُصَلِّي عَلَى مَيِّتَةِ (فُلَانَةٍ) الْغَائِبَةِ أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ إِمَامًا/مَأْمُومًا لِلّٰهِ تَعَالَى

Artinya: “Saya shalat jenazah ‘Si Fulan (sebutkan namanya)’ yang berada di tempat lain, empat takbir dengan hukum fardhu kifayah sebagai imam/mammum karena Allah ta’ala.”

Jika jenazahnya perempuan, maka niatnya adalah:

أُصَلِّي عَلَى مَيِّتَةِ (فُلَانَةٍ) الْغَائِبَةِ أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ إِمَامًا/مَأْمُومًا لِلّٰهِ تَعَالَى

Artinya, “Saya shalat jenazah ‘Si Fulanah (sebutkan namanya)’ yang di tempat lain, empat takbir dengan hukum fardhu kifayah sebagai imam/mammum karena Allah ta’ala.”

Jika jenazah adalah dua laki-laki/satu laki-laki dan satu perempuan/dua perempuan, maka diucapkan niat:

أُصَلِّي عَلَى مَيِّتَيْنِ/مَيِّتَتَيْنِ (فُلَانٍ وَفُلَانٍ-فُلَانٍ وَفُلَانَةٍ/فُلَانَةٍ وَفُلَانَةٍ) الْغَائِبَيْنِ/الْغَائِبَتَيْنِ أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ إِمَامَا/مَأْمُومًا لِلّٰهِ تَعَالَى

Artinya, “Saya shalat dua jenazah ‘Si Fulan dan Si Fulan/Si Fulan dan Si Fulanah/Si Fulanah dan Si Fulanah (sebutkan namanya)’ yang berada di tempat lain empat takbir dengan hukum fardhu kifayah sebagai imam/makmum karena Allah ta’ala.”

Jika banyak jenazah, misalnya korban bencana alam yang menimpa satu desa, maka diucapkan niatnya:

أُصَلِّي عَلَى جَمِيعِ مَوْتَى قَرْيَةِ كَذَا الْغَائِبِينَ الْمُسْلِمِينَ أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ إِمَامَا/مَأْمُومًا لِلّٰهِ تَعَالَى

Artinya, “Saya doakan seluruh umat Islam yang menjadi korban di desa ‘…’ (sebutkan nama desa) yang berada di tempat lain empat takbir dengan hukum fardhu kifayah sebagai imam/makmum karena Allah ta’ala.”

Namun, jika sulit untuk menghafal teks Arab, anda dapat menggunakan terjemahannya baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa daerah masing-masing.

 

Syarat Shalat Gaib

Selain syarat umum, setidaknya ada dua syarat lain yang harus terpenuhi.

Pertama, posisi jenazah berada di luar daerah yang jauh dari jangkauan, atau berada di tempat yang dekat tetapi sulit untuk mencapai.

Kedua, mengetahui atau meyakini bahwa jenazah telah dimandikan. Jika tidak, sholat ghaib tidak sah.

Baca juga: tata cara memandikan jenazah

Namun, jika ia menggantungkan sholat ghaibnya dengan kesucian jenazah (yang telah dimandikan), sholatnya dianggap sah.

Misalnya, ketika dia hendak mengucapkan, “Saya shalat untuk tubuh ‘Si Fulan’… dan seterusnya, dengan catatan bahwa dia sudah suci atau telah dimandikan …” maka sholat sah.

 

Rukun Shalat Gaib

Rukun sholat ghaib tidak berbeda dengan rukun sholat jenazah pada umumnya.

Karena perbedaan keduanya hanya masalah ada atau tidaknya mayat di hadapannya.

Berikut ini adalah tujuh rukun sholat ghaib:

  1. Niat shalat jenazah
  2. Berdiri bagi yang mampu
  3. Membaca Empat takbir. (takbiratul ihram termasuk didalamnya).
  4. Membaca surat al-Fatihah (3)
  5. Memanjatkan halawat kepada Nabi setelah takbir kedua (4)
  6. Membaca doa jenazah setelah rakaat ketiga.
  7. Salam setelah takbir keempat.

 

Doa & Bacaan Sholat Jenazah

Berikut ini adalah doa yang dibaca setelah takbir ke tiga.

Doa ini adalah doa rasulullah s.a.w.

اللهم اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَاعْفُ عَنْهُ وَعَافِهِ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِمَاءٍ وَثَلْجٍ وَبَرَدٍ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَقِهِ فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ

Artinya, “Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah ia, maafkanlah dan berilah ia keafiatan (nasib ukhrawi yang baik), muliakanlah tempatnya, lapangkanlah jalurnya, basuhlah ia dengan air surgawi yang sejuk nan segar, bersihkanlah ia dari noda-noda kesalahan laiknya baju putih yang kembali mengkilap setelah dibersihkan dari kotoran dan noda, gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih indah, keluarga dan pasangan yang lebih baik, lindungilah ia dari fitnah kubur dan siksa neraka.”

Doa setelah takbir ke empat (sebelum salam).

Bila jenazah laki-laki:

اللّـٰهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ

Allahumma laa tahrimna ajrahu wa laa taftinna ba’dahuu waghfir lanaa wa lahuu.

Artinya: “Ya Allah, jangan haramkan kami dari pahalanya dan jangan beri fitnah (cobaan) bagi kami sepeninggalnya. Ampunilah kami dan ampunilah dia.

Bila jenazah perempuan:

اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهَا وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهَا وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهَا

Allaahumma laa tahrimnaa ajrahaa wa la taftinna ba’dahaa waghfir lanaa wa lahaa

Artinya: “Ya Allah, jangan haramkan kami dari pahalanya dan jangan beri fitnah (cobaan) bagi kami sepeninggalnya. Ampunilah kami dan ampunilah dia.

  1.  ( Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdillah as-Syaukani, Nailul Autar, juz IV, halaman 57).
  2. (Alawi Abbas al-Maliki, Hasan Sulaiman an-Nuri, Ibanatul Ahkam Syarhul Bulugil Maram, juz II, halaman 173).
  3. “Amarana Rasulullahi shalallahu ‘alaihi wasallam an naqra’a bi fatihatil kitab ‘ala janazah” (Rasulullah memerintahkan kita untuk membaca Surah al-Fatihah saat sholat jenazah) (HR Ibnu Majah).

Tinggalkan Balasan