13 Rukun Sholat Lengkap Bacaannya

Diposting pada

Rukun Sholat – Sholat merupakan rukun islam yang kedua. Tidak ada perintah yang diberikan perhatian secara lebih oleh Al-Qur’an selain ibadah sholat. Sholat bisa di anggap sah apabila memenuhi syarat dan rukun nya. Oleh karena itu, pembahasan kita hari ini adalah tentang rukun sholat.

Ada beberapa versi mengenai jumlah rukun sholat, namun demikian perbedaan tersebut tidaklah bersifat subtansial, akan tetapi hanya persoalan teknis belaka.

Pada artikel ini, saya akan membahas rukun sholat yang telah di rinci oleh ulama ahli fiqh abu syuja’ dalam kitab taqrib.

 

13 Rukun Sholat

  1. Niat
  2. Takbirotul Ihram
  3. Berdiri bagi yang mampu
  4. Membaca Surat Al-Fatihah
  5. Rukuk disertai Tumaninah
  6. I’tidal serta Tumaninah
  7. Sujud serta Tumaninah
  8. Duduk antara dua sujud disertai Tumaninah
  9. Duduk untuk Tasyahud Akhir
  10. Tasyahud Akhir / Tahiyat Akhir
  11. Sholawat kepada Nabi Muhammad s.a.w
  12. Salam pertama
  13. Tertib

 

Baca juga:

Penjelasan ringkas tentang rukun sholat

Setelah mengetahui 13 rukun sholat diatas, alangkah baik nya memahami satu persatu dari rukun sholat tsb. Karena setiap rukun sholat memiliki syarat dan ketentuan yang harus terpenuhi. Berikut adalah penjelasan ringkas tentang rukun sholat.

Rukun sholat dibagi menjadi 3 macam; yaitu rukun qolbi (hati), rukun qouli (ucapan) dan rukun fi’li (pekerjaan).

Rukun qolbi yaitu niat, rukun qauli yaitu Takbirotul ihram, Al-fatihah, Tasyahud, Shalawat, Salam. Dan sisa nya rukun fi’li.

 

1. Niat

Niat wajib di ucapkan dalam hati (rukun qolbi) bersamaan dengan takbirotul ihram. Sedangkan mengucapkan niat dengan lisan sebelum membaca takbirotul ihram hukumnya adalah sunnah.

Waktu niat adalah ketika lisan mengucapkan Alif lafadz Allah sampai Ra’ lafadz Akbar.

Niat sholat tentu akan berbeda, tergantung sholat apa yang dilaksanakan.

Dalam niat sholat fardhu harus menyatakan qosdul fi’li, fardiyah dan ta’yin.

Sedangkan pada niat sholat sunnah yang memiliki waktu (sholat dhuha) atau yang memiliki sebab (sholat istisqo, gerhana), cukup menyatakan qosdul fi’li dan ta’yin.

Apabila sholat sunnah mutlak, maka cukup dengan qosdul fi’li saja.

 

2. Takbirotul Ihram

Takbirotul ihram adalah takbir yang menjadi sebab haram sesuatu yang semula halal. Misal, hukum makan atau minum adalah halal, akan tetapi ketika sudah menguncapkan takbiroul ihrom, maka hukum makan menjadi haram/tidak boleh.

Takbirotul ihram harus memenuhi syarat-syarat berikut;

 

16 Syarat Takbirotul Ihram

  1. Takbirotul ihram harus di ucapkan pada saat berdiri (bagi yang mampu berdiri).
  2. Harus menggunakan bahasa Arab (bagi yang mampu)
  3. Harus menggunakan lafadz Jalalah (Allah) dan
  4. Menggunakan lafadz Akbar.
  5. Tertib diantara dua lafadz takbir, tidak boleh di baca Akbarullah.
  6. Tidak boleh memanjangkan huruf Hamzah pada lafadz Allah sehingga terbaca Aallahu Akbar.
  7. Jangan memanjangkan huruf alif pada lafadz Akbar sehingga terbaca Allahu Akbaar.
  8. Tidak boleh men-tasydid pada huruf Ba sehingga terbaca Allahu Akbbar.
  9. Jangan menambah huruf wau’ baik sukun atau berharakat antara dua kalimat takbir Allahuu Akbar.
  10. Tidak menambah wau’ sebelum lafadz Allah sehingga terbaca Wallahu Akbar.
  11. Jangan boleh berhenti antara dua kalimat takbir.
  12. Semua huruf pada takbirotul ihram harus terdengar oleh diri sendiri.
  13. Masuk waktu pada sholat yang memiliki waktu (fardhu atau sunnah)
  14. Harus mengahadap kiblat.
  15. Tidak boleh merusak huruf takbirol ihram, seperti menggantikan hamzah lafadz Akbar dengan wau’.
  16. Mengakhirkan takbirotul ihram makmum dari takbir imam.

 

3. Berdiri

Berdiri merupakan rukun sholat yang ketiga, hukum berdiri pada sholat fardhu adalah wajib (bagi yang mampu). Apabila tidak mampu berdiri, boleh duduk. Apabila tidak mampu duduk, boleh dengan tidur miring. Jika tidak mampu, maka boleh dengan cara tidur telentang. Dan itu tidak akan mengurangi pahala sholat.

Hadits nabi;

صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ زاد النسائ في روايته فان لم تستطع فمستلقيا لا يكلف الله نفسا الا وسعها

Cara Sholat Dengan Duduk

Sholat yang dikerjakan sambil duduk, boleh dilakukan dengan berbagai bentuk duduk. Namun duduk iftiros (duduk seperti tahiyyat awal) itu lebih utama.

Sementara untuk rukuk dan sujud harus sesuai dengan semestinya (jika mampu). Jika tidak mampu, maka melakukan rukuk dengan cara membungkukkan badan sekira kening sejajar dengan tempat didepan kedua lututnya atau sejajar dengan tempat sujudnya.

Bila hal ini tidak memungkinkan, maka rukuk dan sujudnya dilakukan dengan membungkukkan badan semampunya, hanya saja untuk sujud harus membungkukan badan lebih rendah dari rukuk.

 

Sholat Dengan Tidur Miring

Bila tidak mampu duduk, sholat boleh sholat dengan tidur miring. Wajah berikut badan bagian depan menghadap kiblat.

Lebih utama posisi tubuh miring ke kanan (tidur dengan lambung kanan) sedangkan rukuk dan sujudnya dilakukan dengan semampunya. Artinya jika ia mampu menggerakkan kepala maka ruku’ dan sujudnya dengan cara tersebut.

Namun jika ia tidak mampu, maka cukup dengan isyarat kepala dengan cara menggerakkan kening kearah bumi, hanya saja untuk isyarat sujud agak lebih ke bawah daripada isyarat rukuk.

 

Sholat Dengan Tidur Telentang

Jika tidak mampu tidur miring maka sholat boleh dengan tidur terlentang.

Letakkan bantal di bawah kepala agar bisa menghadap kiblat.

Melakukan rukuk dan sujud sesuai kemampuannya. Artinya, jika ia mampu menggerakkan kepala, maka rukuk dan sujudnya dengan cara tersebut.

Namun jika ia tidak mampu, maka boleh mengerjakan sholat dengan isyarat kepala. Hanya saja untuk isyarat sujud harus lebih ke bawah daripada isyarat rukuk.

Bila isyarat dengan kepala juga tidak mampu, maka boleh mengerjakan shalat dengan isyarat mata. Jika masih tidak mampu, maka menjalankan semua rukun dan kesunahan sholat di dalam hati.

 

4. Membaca Al-fatihah

Rukun sholat selanjutnya adalah membaca surat Al-fatihah. Bagi imam, makmum ataupun sholat sendiri. Baik di hafal atau melihat mushaf.

Alfatihah termasuk rukun qouli yang harus di dengar oleh diri sendiri

 

10 Syarat Membaca Al-fatihah dalam sholat

Setidaknya ada 10 syarat yang harus di perhatikan pada saat membaca surat Al-fatihah. Berikut adalah syaratnya:

  1. Membaca dengan tertib sesuai urutan ayat.
  2. Berturut-turut (Muwalat) antara satu kalimat dengan kalimat lain, antara satu ayat dengan ayat berikut nya. tidak boleh terputus dengan dzikir lain yang diluar bacaan sholat (mis membaca hamdalah ketika bersin). Apabila itu terjadi, maka pembacaan Al-fatihah harus di ulang.
  3. Menjaga semua huruf-huruf Al-fatihah yang jumlah nya 156 huruf.
  4. Tidak meninggalkan tasydid Al-fatihah yang jumlahnya 14 tasydid.
  5. Tidak berhenti ditengah bacaan dengan maksud memotong bacaan.
  6. Membaca seluruh ayat termasuk Basmalah.
  7. Tidak ada kesalahan yang dapat merusak makna (seperti an’amtu : artinya “saya memberi nikmat)
  8. Membaca fatihah pada saat berdiri dalam salat fardhu.
  9. Bacaan dapat terdengar oleh diri sendiri.
  10. Tidak diselingi dengan dzikir atau bacaan lain.

 

5. Rukuk serta Tuma’ninah

Cara rukuk adalah membungkukan badan sampai kira-kira kedua telapak tangan bisa meraih lutut. Sebelum rukuk sunnah mengangkat tangan seraya membaca takbir.

Cara rukuk yang sempurna adalah;

Membungkukan badan sekira tulang punggung, leher serta kepala lurus sejajar (tidak bengkok)
Lutut ditegakkan.
Telapak tangan memegang lutut.
Jari tangan agak di renggangkan.

Sunnah membaca tasbih sebanyak 3 kali

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ

6. I’tidal Serta Tuma’ninah

I’tidal adalah kembali pada posisi sebelum melakukan rukuk, baik kembali pada posisi berdiri (bagi orang yang sholatnya dengan berdiri) atau kembali pada posisi duduk (bagi orang yang sholatnya dengan duduk).

Syarat I’tidal

Sebagaimana rukuk, i’tidal juga memiliki 3 (tiga) syarat dalam pelaksanaannya. Ketiga syarat tersebut adalah:

Pertama, bangun dari rukuk tidak ada tujuan lain selain i’tidal itu sendiri.

Kedua, tuma’ninah. Pada saat melakukan i’tidal harus disertai dengan tuma’ninah posisi tubuh tegak berdiri dalam keadaan diam dan tenang minimal selama bacaan kalimat tasbih subhânallâh.

Ketiga, Tidak memanjangkan i’tidal melebihi lamanya berdiri pada saat membaca surat Al-Fatihah. Karena i’tidal merupakan rukun yang pendek maka tidak boleh memanjangkannya.

Ketika bangkit dari rukuk untuk melakukan i’tidal sunnah membaca tasbih

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَه رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

Pada saat i’tidal sunnah melepas tangan lurus ke bawah (tidak sedekap) serta sunnah membaca doa itidal.

 

7. Sujud serta Tuma’ninah

Rukun sholat yang ke tujuh adalah sujud. Sujud merupakan rukun fi’li (rukun pekerjaan) yang harus dilakukan. Sujud adalah menempelkan dahi pada tempat sujud.

Syekh Salim bin Sumair Al-Hadlrami dalam kitabnya Safînatun Najâ menyebutkan ada 7 (tujuh) syarat yang harus terpenuhi ketika seorang bersujud dalam sholatnya.

Ketujuh syarat tersebut adalah;

  1. Melakukan sujud dengan tujuh anggota (kening, telapak tangan, lutut dan jari kaki)
  2. Kening atau dahi harus dalam keadaan terbuka, tidak boleh tertutup oleh peci atau rambut poni
  3. Bertumpu pada kepala (menekan kepala).
  4. Membungkukkan badan hanya untuk tujuan sujud.
  5. Tidak bersujud di atas sesuatu yang dapat bergerak sebab gerakannya orang yang sholat.
  6. Meninggikan tubuh bagian bawah (pantat) dari tubuh bagian atas (kepala).
  7. Tuma’ninah.

Sunnah membaca tasbih 3 kali.

سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ

Urutan Tujuh Anggota Sujud

Urutan anggota sujud saat menyentuh tempat sujud; pertama lutut. kedua; kemudian kedua telapak tangan, kemudian dahi dan hidung bersamaan.

Cara Sujud yang Benar;

  • Meletakan kedua lutut terlebih dahulu.
  • Letakan kedua tangan lurus dengan pundak.
  • Sikut tidak menempel pada sejadah.
  • Meletekan dahi diatas tempat sujud serta mata tidak boleh terpejam.
  • Renggangkan telapak kaki kira-kira jarak satu jengkal.
  • Telapak kaki di tegakkan.
  • Jari kaki menghadap ke arah kiblat.

 

8. Duduk Antara Dua Sujud

Aturan qaul mu’tamad, duduk antara dua sujud termasuk rukun pendek yang tidak boleh di perpanjang melebihi bacaan tasyahud.

Pada saat duduk, pastikan beberapa hal ini;
Meletakan tangan diatas paha
Jari tangan sejajar dengan lutut
Merapatkan jari dan menghadapkannya ke kiblat
Membaca doa berikut;

رَبِ ّاِغْفِرْلِيِ وَارْحَمْنِيْ وَارْفَعْنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَارْزُقْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَعَاِفِنيْ وَاعْفُ عَنِّيْ

9. Duduk Tasyahud

Posisi duduk pada tasyahud akhir adalah duduk tawaruq yaitu;
Duduk dengan telapak kaki kanan di tegakkan serta jari kaki di tekuk/lipat.
Telapak kaki kiri berada dibawah tulang kering kaki kakan.
Pantat bagian kiri menempel ke tempat sholat (sejadah).
Letakkan kedua tangan pada paha.
Kepalkan/genggamkan jari tangan kanan kecuali telunjuk.
Ujung ibu jari menyentuh pangkat jari telunjuk.

 

10. Membaca Tasyahud

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ِللهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله

11. Membaca Shalawat

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ و بَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

 

12. Membaca Salam Pertama

Salam pertama (menoleh ke kanan) dalam sholat termasuk fardhu, sedangkan salam kedua (menoleh ke kiri) hukum nya sunnah.
Bacaan salam pertama;

السلام عليكم و رحمة الله

Tidak sunnah membaca Wabarakatuh.

Membaca salam pertama wajib terdengar oleh diri sendiri dan hendaknya disertai niat untuk keluar dari sholat, serta niat mengucapkan salam kepada malaikat dan semua ummat Islam yang ada disekitarmu.

Setelah salam pertama, maka sholat telah selesai. Apabila terjadi hal yang membatalkan sholat setelah salam pertama, maka hukum sholat nya sah.

13. Tartib

Mengerjakan seluruh rukun sholat sesuai dengan urutannya. Maka tidak sah sholat apabila semua rukun sholat tidak dikerjakan secara tertib.
Wallahua’lam

Q&A

Tinggalkan Balasan