Menjamak Sholat Karena Macet, Bolehkah?

Diposting pada

Bagi penduduk kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota lainnya, tentu memahami kemacetan sebagai problem. Mereka menyadari bahwa kemacetan dapat mengganggu kelancaran aktifitas sehari-hari, termasuk melaksanakan ibadah sholat.

Menjelang sore hari, biasanya jalan raya mulai padat dengan berbagai jenis kendaraan. Karena pada sore hari semua orang telah selesai dari pekerjaannya, dan pulang menuju rumahnya masing-masing. Hal ini tentu akan menimbulkan kemacetan yang sangat parah.

Tak jarang, mereka menghabiskan waktu berjam-jam sampai waktu magrib pun masih terjebak kemacetan. Dan tidak sedikit pula mereka tertinggal shalat magrib.

 

Menjamak Sholat Karena Macet

Islam memberikan solusi yang dapat mengatasi masalah tersebut. Yaitu menjamak shalat karena macet.

Seseorang boleh menjamak sholat karena macet sesuai dengan ketentuan di fiqih. Yaitu dzuhur digabung dengan Ashar, dan Magrib dengan Isya.

Rasulullah dalam keadaan segar-bugar, pernah menjamak sholat di Madinah tanpa alasan berat.”

Hal ini sesuai dengan yang tertulis dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin.

لنا قول بجواز الجمع في السفر القصير اختاره البندنيجي وظاهرالحديث جوازه ولو في حضر كما في شرح مسلم وحكى الخطابي عن أبي اسحق جوازه في الحضر للحاجة وان لم يكن خوف ولامطر ولامرض وبه قال ابن المنذر.

Artinya: “kami memiliki pendapat yang membolehkan jamak bagi seseorang yang tengah menempuh perjalanan singkat. Dan pendapat ini telah dipilih oleh Syekh Albandaniji.

Sebuah hadits mengungkapkannya dengan jelas, walaupun jamak dilakukan oleh muqimin (bukan Musafir) seperti tercantum dalam Syarah Muslim.

Dari Abu Ishak, Alkhatthabi menceritakan kebolehan jamak dalam perjalanan singkat karena suatu hajat.

Hal ini boleh saja meskipun bukan dalam kondisi terganggunya keamanan, hujan lebat, dan sakit.

Ibnul Munzir pun memegang pendapat ini,”.

Keterangan yang sama bisa kita temukan dalam kitab Kifayatul Akhyar.

قال النووي: القول بجواز الجمع بالمرض ظاهر مختار، فقد ثبت في صحيح مسلم أن النبي صلى الله عليه وسلم {جمع بالمدينة من غير خوف ولا مطر} قال الاسنائي: وما اختاره النووي نص الشافعي في مختصر المزني ويؤيده المعنى أيضاً فإن المرض يجوز الفطر كالسفر فالجمع أولى بل ذهب جماعة من العلماء إلى جواز الجمع في الحضر للحاجة لمن لا يتخذه عادة وبه قال أبو إسحاق المروزي ونقله عن القفال وحكاه الخطابي عن جماعة من أصحاب الحديث واختاره ابن المنذر من أصحابنا وبه قال أشهب من أصحاب مالك، وهو قول ابن سيرين، ويشهد له قول ابن عباس رضي الله عنهما أراد أن لا يحرج أمته حين ذكر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم {جمع با لمدينة بين الظهر والعصر والمغرب والعشاء من غير خوف ولا مطر} فقال سعيد بن جبير: لم يفعل ذلك؟ فقال:لئلا يحرج أمته فلم يعلله بمرض ولا غيره

Artinya: “Menurut Imam Nawawi, Pendapat yang membolehkan jamak sholat bagi orang sakit, sudah sangat jelas.

Dalam shahih Muslim, Nabi Muhammad SAW menjamak sholat di kota Madinah bukan dalam kondisi terganggunya keamanan, hujan lebat, dan sakit.

Menurut Imam Asna’i, Pilihan Nawawi berdasarkan pendapat Imam Syafi’i yang tercantum dalam kitab Mukhtasar Imam Muzanni.

Pendapat ini adalah sebuah alasan dari sebuah perbandingan dimana alasan dari alasan tersebut adalah perjalanan jauh dari alasan orang untuk bertemu. Kalau puasa saja boleh dibatalkan, maka menjamak sholat lebih mendapat izin.

Bahkan sekelompok ulama membolehkan jamak untuk tuan rumah untuk sebuah hajatan. Dengan catatan, ini tidak bisa menjadi sebuah kebiasaan.

Abu Ishak Almaruzi memegang pendapat ini. Ia mengutipnya dari Syekh Qaffal yang diceritakan oleh Alkhatthabi dari ahli hadits.

Ibnul Munzir Syafi’i dan Syekh Asyhab Maliki berpendapat di atas.

Dan itu adalah pendapat Ibnu Sirin yang disaksikan oleh cerita Ibnu Abbas.

Sebuah hadits mengatakan bahwa Rasulullah menjamak sholat Dzuhur dengan Asar, dan Magrib dengan Isya bukan dalam kondisi keamanan maupun hujan lebat.

Ibnu Abbas berkomentar bahwa dengan jamak itu, Rasulullah SAW tidak mau menyusahkan umatnya.

Saat Said bin Jubair bertanya, ‘Mengapa Rasulullah SAW membolehkannya? Ibnu Abbas menanggapi, ‘Rasulullah SAW tidak mau merepotkan umatnya. Karena itu, Dia melakukannya tanpa sebab sakit atau alasan lain,’”.

ومن الشافعية وغيرهم من ذهب الى جواز الجمع تقديما مطلقا لغير سفر ولا مرض ولا غيرهما من الأعذار. قال النماري رحمه الله إلى أن قال …. يعني أن القائلين بهذا ابن سيرين وربيعة الرأي والقفال الصغير وأشهب من المالكية وابن المنذر والقفال الكبير وأحمد بن حنبل. وعن جماعة جوازه مالم يتخذه عادة وهم غير محصورين, هذا في جمع التقديم واما جمع التأخير فقال به جمع غفير

“Sebagian ulama mazhab Syafi’i dan mazhab lain, secara mutlak membolehkan jamak takdim bagi muqimin, tidak sakit, atau alasan lain. Hal ini termasuk menjamak sholat karena macet. (pent)

Baca juga: niat sholat jamak takdim

Syekh Namari menyebutkan ulama yang sejalan dengan pendapat di atas, antara lain Ibnu Sirin, Rabi’ah, Qaffal Shagir, Asyhab Maliki, Ibnul Munzir Syafi’i, Qaffal Kabir, dan Ahmad bin Hanbal.

Sementara sejumlah ulama membolehkan jamak dengan catatan tidak untuk kebiasaan. Jumlah mereka tidak terhitung. Hukum fikih di atas berlaku untuk jamak takdim. Sedangkan untuk jamak takhir, kebanyakan ulama membolehkannya,”

Tinggalkan Balasan